Kunjungan Lapang Ke Bhineka Flora Surabaya

Pagi hari yang bersemangat mengiringi perjalanan rombongan mahasiswa Fakultas Pertanian menuju Bhineka Flora, salah satu nurseri dan pusat florikultura terkemuka di Surabaya. Fokus utama kunjungan kami adalah mempelajari secara mendalam aspek agribisnis florikultura dan manajemen perbenihan.

Begitu memasuki area Bhineka Flora, kami langsung disambut oleh lautan warna dan tekstur dari berbagai jenis tanaman hias, mulai dari anggrek langka, aneka jenis philodendron, hingga tanaman peneduh berukuran besar. Ini adalah lingkungan yang ideal untuk mengaplikasikan ilmu Hortikultura dan Ilmu Tanah yang kami pelajari di kelas.

Sesi 1: Manajemen Perbanyakan Tanaman (Propagation Management)

Sesi pertama difokuskan pada unit perbanyakan tanaman. Kami diperlihatkan dua teknik utama:

  1. Perbanyakan Konvensional: Kami mengunjungi rumah kaca tempat perbanyakan stek, cangkok, dan okulasi dilakukan secara massal. Seorang teknisi menjelaskan pentingnya pemilihan induk yang sehat dan steril untuk menjamin kualitas anakan. Diskusi kami berfokus pada media tanam spesifik (misalnya komposisi campuran sekam, cocopeat, dan pupuk) yang disesuaikan untuk kebutuhan setiap jenis tanaman.
  2. Kultur Jaringan (Tissue Culture): Ini adalah bagian yang paling menarik. Kami melihat laboratorium mini tempat bibit-bibit unggul, terutama anggrek, diproduksi secara massal dalam kondisi aseptik. Kami belajar bagaimana kultur jaringan menghasilkan bibit seragam dalam jumlah besar dan bebas penyakit, sebuah keunggulan signifikan dalam agribisnis florikultura. Kami berdiskusi tentang potensi komersial dari skala produksi in vitro ini.

Sesi 2: Pengendalian Hama dan Penyakit Terintegrasi (IPM)

Di area perawatan, kami mengamati bagaimana Bhineka Flora menerapkan Integrated Pest Management (IPM).

Para staf menjelaskan bahwa karena tingginya nilai ekonomi setiap tanaman hias, pengendalian hama harus sangat efektif namun juga ramah lingkungan. Mereka menunjukkan penggunaan:

  • Musuh Alami (Biological Control): Pemanfaatan serangga predator untuk mengendalikan hama tertentu.
  • Karantina dan Sanitasi: Prosedur ketat untuk mencegah penyebaran penyakit antarblok tanaman.
  • Aplikasi Pestisida Selektif: Penggunaan pestisida yang hanya menargetkan hama spesifik dan diterapkan dengan dosis yang tepat.

Ini menjadi pelajaran penting bahwa keberlanjutan dan efisiensi harus berjalan beriringan dalam praktik pertanian modern.

Sesi 3: Aspek Bisnis dan Pemasaran Florikultura

Kunjungan studi tur tidak lengkap tanpa mempelajari sisi bisnisnya. Kepala pemasaran Bhineka Flora memberikan presentasi mengenai Agribisnis Florikultura.

Kami mendiskusikan:

  1. Tren Pasar: Identifikasi jenis tanaman hias yang sedang diminati pasar lokal dan ekspor.
  2. Manajemen Logistik: Tantangan dalam pengiriman tanaman hidup (misalnya, menjamin kelembaban dan mencegah kerusakan fisik) ke seluruh Indonesia.
  3. Digitalisasi Agribisnis: Pemanfaatan media sosial dan e-commerce untuk menjangkau kolektor dan konsumen ritel, yang mengubah cara tanaman hias diperjualbelikan.

Kami belajar bahwa agribisnis florikultura adalah perpaduan antara ketelitian teknis budidaya (ilmu pertanian) dan pemahaman yang tajam terhadap dinamika pasar (ilmu ekonomi).